skip to main |
skip to sidebar
Mazmur 103:1-5
1. Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
2. Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
3. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
4. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,
5. Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
Sering kali kita meremehkan berkat TUHAN, terlebih lagi atas hal-hal yang biasa kita terima.
Sebuah legenda menceritakan suatu hari matahari tidak terbit. Jam 6 pagi masih gelap. Jam 7 masih seperti malam. Ketika tengah hari terasa seperti tengah malam. Pada jam 4 sore hari, semua orang datang ke gereja memohon matahari kepada TUHAN. Keesokan harinya semua orang berkumpul dan memandang ke timur. Ketika sinar matahari tampak di timur, semua bersorak dan memuji TUHAN.
Pemazmur tahu, bahwa ia tak dapat mengingat semua perbuatan Allah baginya. Ia sadar kemungkinan ia melupakan itu semua, maka ia membangunkan jiwanya dan mendorongnya untuk tidak melupakan segala kebaikan TUHAN (ay.2). Banyak kebaikan yang TUHAN perbuat padanya (ay.3-5).
Karena kebaikan TUHAN selalu hadir bagaikan matahari, adalah berbahaya bila kita melupakan apa yang ditunjukkan-Nya setiap hari. Mari kita menghitung berkat-berkat TUHAN.
Mazmur 119:2
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
Problema dalam kehidupan seringkali membuat kita letih lesu dan berbeban berat. Namun Yesus mengundang mereka yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan memberi mereka kelegaan. Yesus memberikan jaminan kepada umatnya seperti yang tertulis dalam (Lukas 11:9) ”Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
Kita semua tentu ingin memperoleh jawaban doa dan pertolongan Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan agar kita berpegang pada perintahNya dan mencari Tuhan dengan segenap hati. Orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati, ia selalu memiliki pandangan iman kepada Tuhan. Ia tidak bercabang hati atau mendua hati. Dalam Yakobus 4:8, kita dinasehatkan untuk menyucikan hati agar dapat mendekat kepada Allah. Jika kita tidak setia, ada teguran Firman Tuhan: ” Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakobus 4:4)
Ketika bangsa Israel berada dalam perantauan, perjalanan mereka menuju Tanah Kanaan, mereka terpengaruh oleh peradaban bangsa-bangsa sekitar mereka sehingga mereka tidak lagi setia kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu dan tidak menghendaki umatNya mendua hati karena kita digambarkan sebagai istri-Nya yang harus setia dan tidak bercela di hadapan-Nya (Yesaya 54:5). Berilah diri untuk dipimpin oleh Roh Allah sehingga segala yang kita lakukan berkenan di hadapan-Nya.
Marilah kita mencari Tuhan dengan segenap hati maka apa yang kita minta, diberikan-Nya pada kita.
Kejadian 26:5 (baca ay.3-5)
5. karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku."
Istilah karena dalam ayat diatas, menyebabkan kita melihat ada kerenggangan antara penawaran: janji yang bebas dan tak bersyarat kepada Abraham, dengan janji bersyarat berdasarkan ketaatan Abraham pada segala perintah, ketetapan dan hukum Allah. Janji dan berkat, tetap mendahului perintah untuk taat dan melaksanakan segala perintah Allah. Jelas ketaatan di sini bukan merupakan syarat bagi Abraham untuk menerima berkat Allah.
Janji tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, baik perjanjian berkat kepada Abraham maupun berkat hidup kekal bagi kita. Pemberi janji yang memprakarsai perjanjian dengan para patriakh ini, adalah sosok yang sama, yang memberikan perintah, hukum dan ketetapan. Maka, ketaatan bukan syarat untuk menerima berkat yang dijanjikan dari Allah melainkan merupakan bukti peran-serta sesungguhnya dalam perjanjian yang sama tersebut. Karena Allah setia, para patriakh dimungkinkan menerima berkat-berkat yang dijanjipun sekalipun mereka sendiri tidak berperan serta secaralangsung dalam mengadakan perjanjian dengan Allah.
Itu sebabnya, unsur-unsur persyaratan yang diragukan dalam perjanjian Abraham (dan Daud) tak pernah mengurangi elemen-elemen pokok perjanjian itu, juga tak menambah syarat-syaratnya. Hal tentang kewajiban, ketaatan, yang terkait erat dengan perjanjian itu adalah hasil kelanjutan dan bukan prasayarat untuk menjadi peserta dalam menerima berkat Allah.
Kolose 3:1
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Dalam Lukas 13:10-13 diceritakan ada seorang ibu yang mengikuti ibadah di rumah ibadah. Tetapi sudah 18 tahun ia dirasuk iblis sehingga menderita sakit sampai bungkuk punggungnya. Wanita itu adalah keturunan Abraham, namun ia tidak mengalami berkat Abraham. Ketika Yesus melihat wanita itu, Ia menyembuhkan penyakitnya, sehingga ia tidak bungkuk lagi. Perempuan itu dapat mengarahkan pandangannya ke atas dan ia dapat memuliakan Allah.
Pikirkanlah perkara-perkara yang di atas, jangan pikirkan perkara-perkara di bumi. Walaupun kita masih hidup di bumi dan bergaul dengan orang lain, namun status kita telah berubah ketika kita dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus. Orang lain dapat saja menggunakan berbagai cara yang bertentangan dengan Firman Allah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun sebagai anak-anak Allah, kita harus hidup menurut ajaran-ajaran Kerajaan Allah. Sikap kita dapat berubah jika pikiran kita diperbaharui. Dalam doa Bapa kami, Yesus mengajarkan “Karena itu berdoalah demikian: ‘Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:9-10). Kita harus mengundang Kerajaan Allah dalam kehidupan kita, sehingga Kerajaan Allah itu ada dan dipraktekkan dalam kehidupan kita. Jangan seperti orang-orang duniawi yang tidak mengerti Firman Tuhan. Cara pikir kita harus ditujukan pada perkara yang di atas yaitu perkara Surgawi. Jalani hidup ini dengan meneladani cara hidup Kerajaan Allah.
Jangan hanya memikirkan perkara duniawi, tetapi pikirkanlah perkara surgawi sehingga kita dapat dipulihkan.
Mazmur 150:3-6
3. Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
4. Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
5. Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
6. Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
Banyak kejadian dalam suatu ibadah dimana orang-orang menjadi tidak dapat memuji TUHAN jika tidak memakai alat-alat, jika alat-alat tidak tersedia (intinya mereka kecewa dan tidak datang kepada TUHAN dengan hati yang benar-benar ingin memuji Dia). Pemain gitar menjadi tidak memuji TUHAN ketika tidak ada gitar tersedia. Pemain drum menjadi tidak memuji TUHAN ketika drum tidak tersedia, atau bahkan jemaat tidak memuji TUHAN karena tidak ada musik yang dimainkan dalam ibadah. Ketahuilah, hal memuji TUHAN tidak terbatas pada sekadar 'tampil' saja di depan panggung, lalu memainkan musik dengan alat yang kita kuasai. TUHAN melihat hati. Pertanyaanya, apakah hatimu benar-benar ditujukan untuk memuji Allah ketika engkau melantunkan musik? Ataukah sebenarnya hanya sebatas penghargaan terhadap diri sendiri? Bukannya memuliakan TUHAN dengan musik ataukah tarian ataukah puji-pujian kita, namun memainkan lantunan musik itu untuk mendapat pujian, sambutan dan lain-lain?
Hal ini menjadi berbahaya ketika terjadi sedemikian rupa, sebab TUHAN tidak sudi kemuliaan-Nya direbut. Ingatlah akan firman yang tertulis "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan". Sungguh, ketika seorang memuji-muji TUHAN, apalagi 'tampil' di depan, ia harus benar-benar menjaga hatinya.
Dengan alat musik apapun itu (termasuk suara kita yang dianugerahkan TUHAN, tangan kita yang bisa bertepuk tangan, dll), kita dapat memuji TUHAN. Karena bukan media itu yang amat teramat penting, namun hati kita yang sungguh-sungguh ingin memuji Dia dan benar-benar membutuhkan untuk memuji TUHAN.
1 Korintus 4:2
2. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
Di dunia yang dihuni enam miliar manusia ini, sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Setiap ujung jari memiliki pola goresan tertera di kulit yang sedikit berbeda dengan pola jari orang lain, bahkan dari kembar identik sekalipun. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki 'jejak'nua sendiri.
Ada makna lain dari jejak yang kita tinggalkan. Masing-masing kita meninggalkan bekas 'sidik jari rohani' di dalam kehidupan orang lain. Kita tidak hidup selamanya di dunia ini, tetapi setelah kita mati, jejak rohani ini tetap ada.
John Geddie, misionaris asal Kanada memberi contoh jelas tentang jejak yang kita tinggalkan bagi orang lain. Setelah tiba di pulau Aneityum, ia bertemu dengan suku kanibal yang ganas, yang menganggap daging manusia sebagai makanan terlezat. Kekerasan, pencurian, dan peperangan adalah hal yang lumrah. Di catatan harian yang ditulisnya pada 9 Feb 1849, ia menulis, "Dalam kegelapan dan kesengsaraan yang melingkupiku, aku menantikan dengan iman, saat-saat ketika penduduk malang ini bersatu menyanyikan lagu kemenangan atas ditebusnya jiwa mereka."
Ia berkesempatan menyaksikan hal itu terjadi. Geddie wafat tepat sebelum natal 1872, dan di batu nisannya yang kemudia dipasang di gereja di pulau itu tertulis: "Untuk mengenang John Geddie...ketika ia mendarat pada 1848, di sini sama sekali tidak ada orang Kristen, dan saat ia wafat 1872, tidak ada penyembah berhala di sini."
Bisa jadi Anda dan saya tidak bertanggung jawab untuk mengajak semua orang bertobat, tetapi kita akan meninggalkan jejak kita di dalam hidup orang-orang tertentu. Dunia ini akan lebih baik apabila kita menjalani hidup yang penuh iman.
Lukas 14:23
23. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Sejarawan E.H. McKinley menulis bahwa William Booth mendirikan Bala Keselamatan bagi "tukang pukul istri, orang yang curang dan suka menggertak, pelacur, anak laki-laki yang suka mencuri uang belanja keluargaya, dan suami yang tidak setia. Booth, istrinya dan kedelapan anak mereka membawa Injil ke tempat-tempat yang tidak bersih apalagi nyaman. Di tengah semua rintangan itu, William dan Catherin Booth tetap teguh melangkah, mereka menolak untuk berputus asa. Perkataan William yang paling terkenal adalah "Carilah jiwa-jiwa dan carilah yang paling buruk!"
Dalam rangka menanggapi tekadnya itu, William Booth, istrinya dan anak-anak mereka membiarkan sepatu mereka tercemari debu dunia ini. Mereka menanggapnya sebagai kehormatan sekaligus kewajiban untuk melakukannya. Setiap hari mereka meninggalkan rasa aman di rumah mereka dan bertualang ke berbagai jalanan di berbagai kota besar di dunia untuk memperkenalkan Kristus yang sanggup memenuhi kebutuhan banyak orang.
Pada masa Yesus, orang-orang memakai kasut, sehingga kaki mereka berdebu. Pada masa itu, Anda tidak dapat keluar rumah dan berjalan lebih dari beberapa langkah di atas jalanan yang kotor, melewati ladang, atau bukit bahkan di atas jalanan beraspal di Yerusalem tanpa melihat kaki Anda berdebu. Itulah sebabnya sudah menjadi kebiasaan yang umum dalam bersopan santun bagi tuan rumah untuk menyediakan seorang pelayan untuk mencuci kaki para tamu yang singgah ke rumahnya (Lukas 7:36-50; Yohanes 13:3-14).
Mengingat kita sekarang tidak memakai sandal dan berjalan di jalanan berdebu, tradisi itu tidak lagi diterapkan, meskipun demikian makna kiasannya masih berlaku sampai sekarang. Jika kita ingin memenuhi Amanat Agung Yesus Kristus, kita harus keluar dari rumah kita membiarkan alas kaki saya berdebu untuk kerajaan-Nya.
Efesus 6:18(baca ay 18-20)
18. dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
Lutut yang usang bicara tentang doa, doa sebagai pilar penopang Kristiani, dapat kita sebut sebagai nafas orang Kristen. Nah saya merasa, bahwa sebagai umat Kristiani, kita seharusnya punya masalah dengan -celana panjang dengan lutut yang usang - karena kita harus melakukan sebagian besar pekerjaan kita dengan lutut-lutut kita. Sebagaimana yang ditulis oleh William Cowper, pengarang himne dari Inggris, "Setan gemetar tatkala melihat orang suci yang paling lemah sedang berlutut."
Tentu saja kita tidak perlu berlutut untuk berdoa. Alkitab menggambarkan banyak sikap doa. Yesus misalnya, berdiri dan berdoa dengan mata-Nya tertuju ke sorga. Di Getsemani, Dia jatuh tersungkur. Dalam 1 Tawarikh 17:6, Daud duduk di hadapan TUHAN di dalam doa. Terkadang para pahlawan Alkitab berdoa sambil berbaring di tempat tidur mereka, atau seperti yang dilakukan para mudrid bersama Yesus, sambil berjalan di dalam perjalanan.
Tidak ada sikap khusus yg diperlukan agar dapat berdoa dengan efektif, tetapo sikap tubuh menyampaikan ungkapan doa yang berbeda-beda. Berdiri menunjukkan keberanian tertentu. Berjalan mengandung arti persekutuan. Duduk di hadapan TUHAN seperti pendekatan ala bisnis yg praktis. Berlutut menunjukkan kepatuhan, kesungguhan dan kepasrahan.
Kemenangan dalam hidup kita diperoleh melalui lutut-lutut kita. Ketika kita sujud menyembah Allah Yang Mahakuasa, kita mengakui-Nya sebagai "Pencipta, Pembela, Penebus dan Pemelihara" kita. Ketika kita menyerahkan diri kita, rencana kita, serta semua masalah kita kepada-Nua, Dia akan turun tangan bagi kemuliaan nama-Nya dan demi kebaikan kita.
Apakah lutut Anda menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Biarlah setiap kita mengatakan, "Saya melakukan sebagian besar pekerjaan saya di atas lutut-lutut saya."
Matius 25:34-40
40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Ketika Dr. Bob Pierce 'seorang Kristen yang legendaris karena kebaikan hatinya kepada sesama- menghadapi ajal karena leukemia, ia tetap bersikeras berkeliling dunia, berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan jutaan orang yang sakit, miskin dan lapar. Akibat penyakitnya itu, ia tidak bisa tidur, dan dokternya memberi resep obat tidur kepadanya. Obat-obat itu menjadi penyelamat bagi Dr. Pierce ketika ia bekerja dengan susah payah.
Tak lama sebelum kematiannya, Dr. Bob mengunjungi sebuah klinik kecil di tepi sungai di hutan Borneo (di Kalimantan, Indonesia). Klinik kecil ini dikelola oleh seorang Kristen lain yang dijuluki "Borneo Bob" Williams. Pada masa kunjungannya itu, Dr. Pierce memperhatikan seorang gadis yang sedang terbaring di sebuah tikar bambu. Ia bertanya pada gadis itu dan diberitahu bahwa gadis itu sedang menghadapi ajal akibat kanker dan hidupnya tinggal beberapa hari saja.
"Mengapa gadis itu berbaring di lumpur sana, padahal ia bisa saja berada di dalam klinik yang enak dan bersih ini?" tanya Pierce.
Borneo Bom menjelaskan bahwa gadis itu tinggal di hutan dan ingin berbaring di dekar sungai karena lebih sejuk. Ia membuat permintaan khusus untuk diijinkan berbaring di tempat itu sepanjang hari. Hati Pierce tersentuh ketika ia berlutut di sebelah gadis itu, mengusap dahinya dan berdoa baginya. Gadis itu membuka matanya dan menggumankan sesuatu dalam bahasa ibunya. Borneo Bob menerjemahkan kata-katanya. Gadis itu merasa sangat kesakitan, tapi ia tidak bisa tidur.
Dr. Pierce menyeka air matanya dan memasukkan tangan ke dalam sakunya untuk mengambil botol obat tidurnya yang sangat berharga baginya. Pierce memberikannya kepada Borneo Bob dengan berkata, "Anda harus memastikan bahwa mulai sekarang ia bisa tidur malam dengan nyenyak."
Baru beberapa hari sesudahnya Pierce mendapatkan obat tidur yang baru, dan sebelumnya ia menderita setiap malam karena insomnia yang menyakitkan. Tetapi, ketika ia kembali ke rumahnya ia menemukan sebuah surat dari Borneo Bob yang mengabarkan bahwa gadis itu sudah meninggal dan salah satu pesan terakhir yang dikatakannya adalah "Tolong sampaikan terima kasih saya kepada orang yang baik hati itu, yang memberi saya obat ini, sehingga saya bisa tidur."
Mungkin kita tidak bisa bepergian mengelilingi dunia dan membantu jutaan orang. Munkin kita tidak dapat mendirikan sekolah, panti asuhan atau lembaga amal yang besar seorang diri. Namun, kita bisa menyingsingkan lengan baju kita, bertindak, menawarkan pertolongan dan menjadi tangan-tangan Yesus, sehingga orang lain bisa mengenal hati Yesus. Itulah kehidupan sejati - dan merupakan bagioan dari tugas kita. Kita harus selalu ingat bahwa ketika kita melakukan sesuatu untuk saudara-saudara Yesus Kristus yang berkekurangan, kita melakukannya bagi-Nya.
Gbu
Matius 17:4 (baca ay.1-13)
4. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Peristiwa yang dicatat oleh Matius disebut dengan transfigurasi (perubahan rupa kemuliaan). Hal ini menjadi gambaran dari puncak kemuliaan yang akan Yesus terima melalui jalan salib yang harus Ia lalui dan bagi mereka yang mau mengikuti-Nya. Pada waktu itu, keadaan yang begitu menakjubkan membuat Petrus secara spontan menawarkan untuk mendirikan kemah supaya ia dan kedua rekannya bisa menikmati bersama dan tidak perlu turun kembali dari gunung. Ia ingin menikmati saat-saat bersama dengan kedua tokoh besar Perjanjian Lama.
Kehadiran Allah dan suara-Nya menyadarkan mereka bahwa iman dan pengharapan mereka harus senantiasa ditujukan kepada Yesus yang lebih besar dari Musa dan Elia. Kemuliaan yang nampak pada wajah Yesus menjadi pengingat bagi kita pada hari ini bahwa Allah tidak pernah mengabaikan kita dalam segala kesulitan, seperti halnya kepada bangsa Israel pada jaman nabi Musa.
Tetapi tidak cukup juga bagi kita hanya melihat kemuliaan Allah dalam Kristus. Kita perlu mengerti bahwa kemuliaan hanya bisa dicapai dengan suatu pengorbanan dan kerelaan untuk merendahkan diri. Waktu kita mendekatkan diri pada-Nya dalam saat teduh dan waktu perenungan kita, terdapat damai sejahtera-Nya yang membuat kita berani menjalani panggilan kita untuk bekerja dan melayani sesama menjadi berkat.
Rabu, 16 Januari 2013
Hari Ketika Matahari Tak Bersinar
Mazmur 103:1-5
1. Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
2. Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
3. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
4. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,
5. Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
Sering kali kita meremehkan berkat TUHAN, terlebih lagi atas hal-hal yang biasa kita terima.
Sebuah legenda menceritakan suatu hari matahari tidak terbit. Jam 6 pagi masih gelap. Jam 7 masih seperti malam. Ketika tengah hari terasa seperti tengah malam. Pada jam 4 sore hari, semua orang datang ke gereja memohon matahari kepada TUHAN. Keesokan harinya semua orang berkumpul dan memandang ke timur. Ketika sinar matahari tampak di timur, semua bersorak dan memuji TUHAN.
Pemazmur tahu, bahwa ia tak dapat mengingat semua perbuatan Allah baginya. Ia sadar kemungkinan ia melupakan itu semua, maka ia membangunkan jiwanya dan mendorongnya untuk tidak melupakan segala kebaikan TUHAN (ay.2). Banyak kebaikan yang TUHAN perbuat padanya (ay.3-5).
Karena kebaikan TUHAN selalu hadir bagaikan matahari, adalah berbahaya bila kita melupakan apa yang ditunjukkan-Nya setiap hari. Mari kita menghitung berkat-berkat TUHAN.
DENGAN SEGENAP HATI
Mazmur 119:2
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
Problema dalam kehidupan seringkali membuat kita letih lesu dan berbeban berat. Namun Yesus mengundang mereka yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan memberi mereka kelegaan. Yesus memberikan jaminan kepada umatnya seperti yang tertulis dalam (Lukas 11:9) ”Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
Kita semua tentu ingin memperoleh jawaban doa dan pertolongan Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan agar kita berpegang pada perintahNya dan mencari Tuhan dengan segenap hati. Orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati, ia selalu memiliki pandangan iman kepada Tuhan. Ia tidak bercabang hati atau mendua hati. Dalam Yakobus 4:8, kita dinasehatkan untuk menyucikan hati agar dapat mendekat kepada Allah. Jika kita tidak setia, ada teguran Firman Tuhan: ” Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakobus 4:4)
Ketika bangsa Israel berada dalam perantauan, perjalanan mereka menuju Tanah Kanaan, mereka terpengaruh oleh peradaban bangsa-bangsa sekitar mereka sehingga mereka tidak lagi setia kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu dan tidak menghendaki umatNya mendua hati karena kita digambarkan sebagai istri-Nya yang harus setia dan tidak bercela di hadapan-Nya (Yesaya 54:5). Berilah diri untuk dipimpin oleh Roh Allah sehingga segala yang kita lakukan berkenan di hadapan-Nya.
Marilah kita mencari Tuhan dengan segenap hati maka apa yang kita minta, diberikan-Nya pada kita.
Diberkati Karena Abraham Telah Mendengarkan Firman Allah
Kejadian 26:5 (baca ay.3-5)
5. karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku."
Istilah karena dalam ayat diatas, menyebabkan kita melihat ada kerenggangan antara penawaran: janji yang bebas dan tak bersyarat kepada Abraham, dengan janji bersyarat berdasarkan ketaatan Abraham pada segala perintah, ketetapan dan hukum Allah. Janji dan berkat, tetap mendahului perintah untuk taat dan melaksanakan segala perintah Allah. Jelas ketaatan di sini bukan merupakan syarat bagi Abraham untuk menerima berkat Allah.
Janji tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, baik perjanjian berkat kepada Abraham maupun berkat hidup kekal bagi kita. Pemberi janji yang memprakarsai perjanjian dengan para patriakh ini, adalah sosok yang sama, yang memberikan perintah, hukum dan ketetapan. Maka, ketaatan bukan syarat untuk menerima berkat yang dijanjikan dari Allah melainkan merupakan bukti peran-serta sesungguhnya dalam perjanjian yang sama tersebut. Karena Allah setia, para patriakh dimungkinkan menerima berkat-berkat yang dijanjipun sekalipun mereka sendiri tidak berperan serta secaralangsung dalam mengadakan perjanjian dengan Allah.
Itu sebabnya, unsur-unsur persyaratan yang diragukan dalam perjanjian Abraham (dan Daud) tak pernah mengurangi elemen-elemen pokok perjanjian itu, juga tak menambah syarat-syaratnya. Hal tentang kewajiban, ketaatan, yang terkait erat dengan perjanjian itu adalah hasil kelanjutan dan bukan prasayarat untuk menjadi peserta dalam menerima berkat Allah.
KITA PERLU DIPULIHKAN
Kolose 3:1
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Dalam Lukas 13:10-13 diceritakan ada seorang ibu yang mengikuti ibadah di rumah ibadah. Tetapi sudah 18 tahun ia dirasuk iblis sehingga menderita sakit sampai bungkuk punggungnya. Wanita itu adalah keturunan Abraham, namun ia tidak mengalami berkat Abraham. Ketika Yesus melihat wanita itu, Ia menyembuhkan penyakitnya, sehingga ia tidak bungkuk lagi. Perempuan itu dapat mengarahkan pandangannya ke atas dan ia dapat memuliakan Allah.
Pikirkanlah perkara-perkara yang di atas, jangan pikirkan perkara-perkara di bumi. Walaupun kita masih hidup di bumi dan bergaul dengan orang lain, namun status kita telah berubah ketika kita dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus. Orang lain dapat saja menggunakan berbagai cara yang bertentangan dengan Firman Allah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun sebagai anak-anak Allah, kita harus hidup menurut ajaran-ajaran Kerajaan Allah. Sikap kita dapat berubah jika pikiran kita diperbaharui. Dalam doa Bapa kami, Yesus mengajarkan “Karena itu berdoalah demikian: ‘Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:9-10). Kita harus mengundang Kerajaan Allah dalam kehidupan kita, sehingga Kerajaan Allah itu ada dan dipraktekkan dalam kehidupan kita. Jangan seperti orang-orang duniawi yang tidak mengerti Firman Tuhan. Cara pikir kita harus ditujukan pada perkara yang di atas yaitu perkara Surgawi. Jalani hidup ini dengan meneladani cara hidup Kerajaan Allah.
Jangan hanya memikirkan perkara duniawi, tetapi pikirkanlah perkara surgawi sehingga kita dapat dipulihkan.
Bukan Sebatas Memainkan Musik Saja
Mazmur 150:3-6
3. Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
4. Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
5. Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
6. Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
Banyak kejadian dalam suatu ibadah dimana orang-orang menjadi tidak dapat memuji TUHAN jika tidak memakai alat-alat, jika alat-alat tidak tersedia (intinya mereka kecewa dan tidak datang kepada TUHAN dengan hati yang benar-benar ingin memuji Dia). Pemain gitar menjadi tidak memuji TUHAN ketika tidak ada gitar tersedia. Pemain drum menjadi tidak memuji TUHAN ketika drum tidak tersedia, atau bahkan jemaat tidak memuji TUHAN karena tidak ada musik yang dimainkan dalam ibadah. Ketahuilah, hal memuji TUHAN tidak terbatas pada sekadar 'tampil' saja di depan panggung, lalu memainkan musik dengan alat yang kita kuasai. TUHAN melihat hati. Pertanyaanya, apakah hatimu benar-benar ditujukan untuk memuji Allah ketika engkau melantunkan musik? Ataukah sebenarnya hanya sebatas penghargaan terhadap diri sendiri? Bukannya memuliakan TUHAN dengan musik ataukah tarian ataukah puji-pujian kita, namun memainkan lantunan musik itu untuk mendapat pujian, sambutan dan lain-lain?
Hal ini menjadi berbahaya ketika terjadi sedemikian rupa, sebab TUHAN tidak sudi kemuliaan-Nya direbut. Ingatlah akan firman yang tertulis "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan". Sungguh, ketika seorang memuji-muji TUHAN, apalagi 'tampil' di depan, ia harus benar-benar menjaga hatinya.
Dengan alat musik apapun itu (termasuk suara kita yang dianugerahkan TUHAN, tangan kita yang bisa bertepuk tangan, dll), kita dapat memuji TUHAN. Karena bukan media itu yang amat teramat penting, namun hati kita yang sungguh-sungguh ingin memuji Dia dan benar-benar membutuhkan untuk memuji TUHAN.
Jejak Yang Anda Tinggalkan
1 Korintus 4:2
2. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
Di dunia yang dihuni enam miliar manusia ini, sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Setiap ujung jari memiliki pola goresan tertera di kulit yang sedikit berbeda dengan pola jari orang lain, bahkan dari kembar identik sekalipun. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki 'jejak'nua sendiri.
Ada makna lain dari jejak yang kita tinggalkan. Masing-masing kita meninggalkan bekas 'sidik jari rohani' di dalam kehidupan orang lain. Kita tidak hidup selamanya di dunia ini, tetapi setelah kita mati, jejak rohani ini tetap ada.
John Geddie, misionaris asal Kanada memberi contoh jelas tentang jejak yang kita tinggalkan bagi orang lain. Setelah tiba di pulau Aneityum, ia bertemu dengan suku kanibal yang ganas, yang menganggap daging manusia sebagai makanan terlezat. Kekerasan, pencurian, dan peperangan adalah hal yang lumrah. Di catatan harian yang ditulisnya pada 9 Feb 1849, ia menulis, "Dalam kegelapan dan kesengsaraan yang melingkupiku, aku menantikan dengan iman, saat-saat ketika penduduk malang ini bersatu menyanyikan lagu kemenangan atas ditebusnya jiwa mereka."
Ia berkesempatan menyaksikan hal itu terjadi. Geddie wafat tepat sebelum natal 1872, dan di batu nisannya yang kemudia dipasang di gereja di pulau itu tertulis: "Untuk mengenang John Geddie...ketika ia mendarat pada 1848, di sini sama sekali tidak ada orang Kristen, dan saat ia wafat 1872, tidak ada penyembah berhala di sini."
Bisa jadi Anda dan saya tidak bertanggung jawab untuk mengajak semua orang bertobat, tetapi kita akan meninggalkan jejak kita di dalam hidup orang-orang tertentu. Dunia ini akan lebih baik apabila kita menjalani hidup yang penuh iman.
Kasut Yang Berdebu
Lukas 14:23
23. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Sejarawan E.H. McKinley menulis bahwa William Booth mendirikan Bala Keselamatan bagi "tukang pukul istri, orang yang curang dan suka menggertak, pelacur, anak laki-laki yang suka mencuri uang belanja keluargaya, dan suami yang tidak setia. Booth, istrinya dan kedelapan anak mereka membawa Injil ke tempat-tempat yang tidak bersih apalagi nyaman. Di tengah semua rintangan itu, William dan Catherin Booth tetap teguh melangkah, mereka menolak untuk berputus asa. Perkataan William yang paling terkenal adalah "Carilah jiwa-jiwa dan carilah yang paling buruk!"
Dalam rangka menanggapi tekadnya itu, William Booth, istrinya dan anak-anak mereka membiarkan sepatu mereka tercemari debu dunia ini. Mereka menanggapnya sebagai kehormatan sekaligus kewajiban untuk melakukannya. Setiap hari mereka meninggalkan rasa aman di rumah mereka dan bertualang ke berbagai jalanan di berbagai kota besar di dunia untuk memperkenalkan Kristus yang sanggup memenuhi kebutuhan banyak orang.
Pada masa Yesus, orang-orang memakai kasut, sehingga kaki mereka berdebu. Pada masa itu, Anda tidak dapat keluar rumah dan berjalan lebih dari beberapa langkah di atas jalanan yang kotor, melewati ladang, atau bukit bahkan di atas jalanan beraspal di Yerusalem tanpa melihat kaki Anda berdebu. Itulah sebabnya sudah menjadi kebiasaan yang umum dalam bersopan santun bagi tuan rumah untuk menyediakan seorang pelayan untuk mencuci kaki para tamu yang singgah ke rumahnya (Lukas 7:36-50; Yohanes 13:3-14).
Mengingat kita sekarang tidak memakai sandal dan berjalan di jalanan berdebu, tradisi itu tidak lagi diterapkan, meskipun demikian makna kiasannya masih berlaku sampai sekarang. Jika kita ingin memenuhi Amanat Agung Yesus Kristus, kita harus keluar dari rumah kita membiarkan alas kaki saya berdebu untuk kerajaan-Nya.
Lutut Yang Usang
Efesus 6:18(baca ay 18-20)
18. dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
Lutut yang usang bicara tentang doa, doa sebagai pilar penopang Kristiani, dapat kita sebut sebagai nafas orang Kristen. Nah saya merasa, bahwa sebagai umat Kristiani, kita seharusnya punya masalah dengan -celana panjang dengan lutut yang usang - karena kita harus melakukan sebagian besar pekerjaan kita dengan lutut-lutut kita. Sebagaimana yang ditulis oleh William Cowper, pengarang himne dari Inggris, "Setan gemetar tatkala melihat orang suci yang paling lemah sedang berlutut."
Tentu saja kita tidak perlu berlutut untuk berdoa. Alkitab menggambarkan banyak sikap doa. Yesus misalnya, berdiri dan berdoa dengan mata-Nya tertuju ke sorga. Di Getsemani, Dia jatuh tersungkur. Dalam 1 Tawarikh 17:6, Daud duduk di hadapan TUHAN di dalam doa. Terkadang para pahlawan Alkitab berdoa sambil berbaring di tempat tidur mereka, atau seperti yang dilakukan para mudrid bersama Yesus, sambil berjalan di dalam perjalanan.
Tidak ada sikap khusus yg diperlukan agar dapat berdoa dengan efektif, tetapo sikap tubuh menyampaikan ungkapan doa yang berbeda-beda. Berdiri menunjukkan keberanian tertentu. Berjalan mengandung arti persekutuan. Duduk di hadapan TUHAN seperti pendekatan ala bisnis yg praktis. Berlutut menunjukkan kepatuhan, kesungguhan dan kepasrahan.
Kemenangan dalam hidup kita diperoleh melalui lutut-lutut kita. Ketika kita sujud menyembah Allah Yang Mahakuasa, kita mengakui-Nya sebagai "Pencipta, Pembela, Penebus dan Pemelihara" kita. Ketika kita menyerahkan diri kita, rencana kita, serta semua masalah kita kepada-Nua, Dia akan turun tangan bagi kemuliaan nama-Nya dan demi kebaikan kita.
Apakah lutut Anda menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Biarlah setiap kita mengatakan, "Saya melakukan sebagian besar pekerjaan saya di atas lutut-lutut saya."
Lengan Baju Yang Tersingsing
Matius 25:34-40
40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Ketika Dr. Bob Pierce 'seorang Kristen yang legendaris karena kebaikan hatinya kepada sesama- menghadapi ajal karena leukemia, ia tetap bersikeras berkeliling dunia, berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan jutaan orang yang sakit, miskin dan lapar. Akibat penyakitnya itu, ia tidak bisa tidur, dan dokternya memberi resep obat tidur kepadanya. Obat-obat itu menjadi penyelamat bagi Dr. Pierce ketika ia bekerja dengan susah payah.
Tak lama sebelum kematiannya, Dr. Bob mengunjungi sebuah klinik kecil di tepi sungai di hutan Borneo (di Kalimantan, Indonesia). Klinik kecil ini dikelola oleh seorang Kristen lain yang dijuluki "Borneo Bob" Williams. Pada masa kunjungannya itu, Dr. Pierce memperhatikan seorang gadis yang sedang terbaring di sebuah tikar bambu. Ia bertanya pada gadis itu dan diberitahu bahwa gadis itu sedang menghadapi ajal akibat kanker dan hidupnya tinggal beberapa hari saja.
"Mengapa gadis itu berbaring di lumpur sana, padahal ia bisa saja berada di dalam klinik yang enak dan bersih ini?" tanya Pierce.
Borneo Bom menjelaskan bahwa gadis itu tinggal di hutan dan ingin berbaring di dekar sungai karena lebih sejuk. Ia membuat permintaan khusus untuk diijinkan berbaring di tempat itu sepanjang hari. Hati Pierce tersentuh ketika ia berlutut di sebelah gadis itu, mengusap dahinya dan berdoa baginya. Gadis itu membuka matanya dan menggumankan sesuatu dalam bahasa ibunya. Borneo Bob menerjemahkan kata-katanya. Gadis itu merasa sangat kesakitan, tapi ia tidak bisa tidur.
Dr. Pierce menyeka air matanya dan memasukkan tangan ke dalam sakunya untuk mengambil botol obat tidurnya yang sangat berharga baginya. Pierce memberikannya kepada Borneo Bob dengan berkata, "Anda harus memastikan bahwa mulai sekarang ia bisa tidur malam dengan nyenyak."
Baru beberapa hari sesudahnya Pierce mendapatkan obat tidur yang baru, dan sebelumnya ia menderita setiap malam karena insomnia yang menyakitkan. Tetapi, ketika ia kembali ke rumahnya ia menemukan sebuah surat dari Borneo Bob yang mengabarkan bahwa gadis itu sudah meninggal dan salah satu pesan terakhir yang dikatakannya adalah "Tolong sampaikan terima kasih saya kepada orang yang baik hati itu, yang memberi saya obat ini, sehingga saya bisa tidur."
Mungkin kita tidak bisa bepergian mengelilingi dunia dan membantu jutaan orang. Munkin kita tidak dapat mendirikan sekolah, panti asuhan atau lembaga amal yang besar seorang diri. Namun, kita bisa menyingsingkan lengan baju kita, bertindak, menawarkan pertolongan dan menjadi tangan-tangan Yesus, sehingga orang lain bisa mengenal hati Yesus. Itulah kehidupan sejati - dan merupakan bagioan dari tugas kita. Kita harus selalu ingat bahwa ketika kita melakukan sesuatu untuk saudara-saudara Yesus Kristus yang berkekurangan, kita melakukannya bagi-Nya.
Gbu
Jalan Salib Mendahului Kemuliaan
Matius 17:4 (baca ay.1-13)
4. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Peristiwa yang dicatat oleh Matius disebut dengan transfigurasi (perubahan rupa kemuliaan). Hal ini menjadi gambaran dari puncak kemuliaan yang akan Yesus terima melalui jalan salib yang harus Ia lalui dan bagi mereka yang mau mengikuti-Nya. Pada waktu itu, keadaan yang begitu menakjubkan membuat Petrus secara spontan menawarkan untuk mendirikan kemah supaya ia dan kedua rekannya bisa menikmati bersama dan tidak perlu turun kembali dari gunung. Ia ingin menikmati saat-saat bersama dengan kedua tokoh besar Perjanjian Lama.
Kehadiran Allah dan suara-Nya menyadarkan mereka bahwa iman dan pengharapan mereka harus senantiasa ditujukan kepada Yesus yang lebih besar dari Musa dan Elia. Kemuliaan yang nampak pada wajah Yesus menjadi pengingat bagi kita pada hari ini bahwa Allah tidak pernah mengabaikan kita dalam segala kesulitan, seperti halnya kepada bangsa Israel pada jaman nabi Musa.
Tetapi tidak cukup juga bagi kita hanya melihat kemuliaan Allah dalam Kristus. Kita perlu mengerti bahwa kemuliaan hanya bisa dicapai dengan suatu pengorbanan dan kerelaan untuk merendahkan diri. Waktu kita mendekatkan diri pada-Nya dalam saat teduh dan waktu perenungan kita, terdapat damai sejahtera-Nya yang membuat kita berani menjalani panggilan kita untuk bekerja dan melayani sesama menjadi berkat.
Minggu, 01 Juli 2012
Sarana Hidup Bukan Sumber Hidup
Matius 6:33 (baca ay.25-34)
33. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Keserakahan/mamonisme adalah gerakan memuja harta dan apa yang bisa disediakan oleh harta. Manusia diciptakan Allah dengan 'kebutuhan" untuk menyembah, dan jika manusia tidak menyembah Allah, maka kebutuhan ini akan membawa manusia mencari sasaran penyembahan lain 'popularitas' atau 'manusia lain' atau bahkan 'materi'. Dalam kenyataan sehari-hari, ilah yang paling banyak disembah manusia adalah materi. Bagi penyembahnya materi adalah segalanya, dan ditempatkan lebih tinggi dari manusia bahkan dari Allah.
Salah satu yang penting dalam hal ini adalah persepsi yang benar. Allah sebagai sumber hidup, materi sebagai sarana hidup. Ketika kita terbalik mempersepsikannya, maka kita akan mulai terjerumus dalam ketidakseimbangan lagi. Dan karena persepsi salah dalam hal ini, materi begitu mengikat seseorang, sehingga membuat orang itu malah kuatir kehilangan materinya. Dan kekuatiran ini begitu merusak jiwa manusia, damai hilang dari kehidupan, damai hilang sukacitapun turut lenyap. Sukacita lenyap makna hidup pun semakin kecil.
Ingatlah, Materi adalah sarana untuk hidup, namun TUHAN lah sumber hidup. Rahasia besar dari kecukupan diri bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan 'menginginkan' apa yang sudah kita dapatkan. Hiduplah untuk bisa berjalan bersama Allah dengan berinvestasi di surga sehingga kita tidak jadi hamba materialistis.
33. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Keserakahan/mamonisme adalah gerakan memuja harta dan apa yang bisa disediakan oleh harta. Manusia diciptakan Allah dengan 'kebutuhan" untuk menyembah, dan jika manusia tidak menyembah Allah, maka kebutuhan ini akan membawa manusia mencari sasaran penyembahan lain 'popularitas' atau 'manusia lain' atau bahkan 'materi'. Dalam kenyataan sehari-hari, ilah yang paling banyak disembah manusia adalah materi. Bagi penyembahnya materi adalah segalanya, dan ditempatkan lebih tinggi dari manusia bahkan dari Allah.
Salah satu yang penting dalam hal ini adalah persepsi yang benar. Allah sebagai sumber hidup, materi sebagai sarana hidup. Ketika kita terbalik mempersepsikannya, maka kita akan mulai terjerumus dalam ketidakseimbangan lagi. Dan karena persepsi salah dalam hal ini, materi begitu mengikat seseorang, sehingga membuat orang itu malah kuatir kehilangan materinya. Dan kekuatiran ini begitu merusak jiwa manusia, damai hilang dari kehidupan, damai hilang sukacitapun turut lenyap. Sukacita lenyap makna hidup pun semakin kecil.
Ingatlah, Materi adalah sarana untuk hidup, namun TUHAN lah sumber hidup. Rahasia besar dari kecukupan diri bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan 'menginginkan' apa yang sudah kita dapatkan. Hiduplah untuk bisa berjalan bersama Allah dengan berinvestasi di surga sehingga kita tidak jadi hamba materialistis.
Hargailah kedaulatan yang TUHAN berikan
Amos 3:1-2
“Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir, bunyinya: ‘Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu. Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”
Pada waktu Tuhan menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan sendiri mendampingi mereka siang maupun malam. Pada waktu siang, Tuhan mendampingi mereka dengan tiang awan dan pada malam hari, Tuhan mendampingi mereka dengan tiang api. Semua itu menyatakan penyertaan Tuhan pada bangsa Israel. Bahkan yang hebat sekali dalam Amos 3:2 dikatakan bahwa: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi…” Arti kata ‘kenal’ dalam ayat ini mengandung arti sangat intim seperti suami-istri, begitu dekat.
Kepada orang-orang yang tidak memiliki ketaatan, Yesus berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu.” (Matius 25:12). Padahal mereka itu adalah orang-orang yang suka memberitakan Injil, mereka sering mendoakan orang sakit dan orang sakitpun menjadi sembuh. Rupanya banyak orang yang menamakan diri sebagai orang yang setia melayani Tuhan, menyembah Tuhan dan mengaku mengenal Dia. Tapi Tuhan sendiri berkata: “Aku tidak mengenal kamu.”
Kita yang telah ditebus Tuhan Yesus Kristus, kita telah menerima otoritas sebagai umat pilihan. Kita telah menerima hak kesulungan dari Tuhan. Jangan sampai kita seperti Esau yang telah menjual hak kesulungannya hanya karena sepiring kacang merah. Jangan sampai kita menjadi orang yang ditolak Allah. Kita telah menjadi harta kesayangan Allah. Pertahankanlah semua anugerah-Nya, sehingga kita dapat berkata: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37).
Kita adalah umat kesayangan Allah, sebab itu kita harus menghargai kedaulatan yang Tuhan berikan.
“Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir, bunyinya: ‘Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu. Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”
Pada waktu Tuhan menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan sendiri mendampingi mereka siang maupun malam. Pada waktu siang, Tuhan mendampingi mereka dengan tiang awan dan pada malam hari, Tuhan mendampingi mereka dengan tiang api. Semua itu menyatakan penyertaan Tuhan pada bangsa Israel. Bahkan yang hebat sekali dalam Amos 3:2 dikatakan bahwa: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi…” Arti kata ‘kenal’ dalam ayat ini mengandung arti sangat intim seperti suami-istri, begitu dekat.
Kepada orang-orang yang tidak memiliki ketaatan, Yesus berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu.” (Matius 25:12). Padahal mereka itu adalah orang-orang yang suka memberitakan Injil, mereka sering mendoakan orang sakit dan orang sakitpun menjadi sembuh. Rupanya banyak orang yang menamakan diri sebagai orang yang setia melayani Tuhan, menyembah Tuhan dan mengaku mengenal Dia. Tapi Tuhan sendiri berkata: “Aku tidak mengenal kamu.”
Kita yang telah ditebus Tuhan Yesus Kristus, kita telah menerima otoritas sebagai umat pilihan. Kita telah menerima hak kesulungan dari Tuhan. Jangan sampai kita seperti Esau yang telah menjual hak kesulungannya hanya karena sepiring kacang merah. Jangan sampai kita menjadi orang yang ditolak Allah. Kita telah menjadi harta kesayangan Allah. Pertahankanlah semua anugerah-Nya, sehingga kita dapat berkata: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37).
Kita adalah umat kesayangan Allah, sebab itu kita harus menghargai kedaulatan yang Tuhan berikan.
Pembelaan TUHAN dalam hidup kita
1 Petrus 3:13
“Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?”
Tuhan menghendaki agar kita selalu berbuat baik (Roma 12:9). Tetapi berbuat baik itu tidaklah mudah seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus “…Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku…” (Roma 7:21-25). Hanya dengan pertolongan Allah saja kita akan sanggup melakukannya. Jika kita ingin melihat hari-hari baik, maka lakukanlah yang baik, karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar. Jika kita berbuat baik tentulah Allah berada di pihak kita dan bila Allah ada di pihak kita, siapakah lawan kita (Roma 8:31). Bagi anak-anak Tuhan menderita karena kebenaran adalah hal yang wajar, sebab itu janganlah kita takut atau ikut terpengaruh oleh keadaan sekitar kita, melainkan kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan, yaitu dengan memperlakukan Tuhan sebagai tuan di dalam hidup kita dan kita sebagai hamba, maka kita akan melihat pertolongan Tuhan di dalam hidup kita (Yesaya 8:13-14).
Kita sering mendengar kata teror. Teror adalah hal yang tidak menyenangkan dan jahat. Teror seringkali membuat orang terkejut dan takut, tetapi firman Tuhan mengatakan janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti. Dalam keadaan sangat terjepit, Daud menguatkan kepercayaan kepada Tuhan. Daud memperlakukan Tuhan sebagai Tuannya, maka Allah menolong Daud dengan memberikan kemenangan kepadanya. Demikian juga raja Hizkia adalah orang yang berpegang teguh kepada segala perintah Tuhan. Ketika Hizkia menerima kabar yang mengecilkan hati, ia menyerahkan hal itu kepada Tuhan, maka Tuhan mendengar doanya dan membelanya.
Bila kita mau memperlakukan Tuhan sebagai Tuan dalam hidup kita, maka kita akan melihat pembelaan Tuhan dalam hidup kita.
“Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?”
Tuhan menghendaki agar kita selalu berbuat baik (Roma 12:9). Tetapi berbuat baik itu tidaklah mudah seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus “…Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku…” (Roma 7:21-25). Hanya dengan pertolongan Allah saja kita akan sanggup melakukannya. Jika kita ingin melihat hari-hari baik, maka lakukanlah yang baik, karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar. Jika kita berbuat baik tentulah Allah berada di pihak kita dan bila Allah ada di pihak kita, siapakah lawan kita (Roma 8:31). Bagi anak-anak Tuhan menderita karena kebenaran adalah hal yang wajar, sebab itu janganlah kita takut atau ikut terpengaruh oleh keadaan sekitar kita, melainkan kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan, yaitu dengan memperlakukan Tuhan sebagai tuan di dalam hidup kita dan kita sebagai hamba, maka kita akan melihat pertolongan Tuhan di dalam hidup kita (Yesaya 8:13-14).
Kita sering mendengar kata teror. Teror adalah hal yang tidak menyenangkan dan jahat. Teror seringkali membuat orang terkejut dan takut, tetapi firman Tuhan mengatakan janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti. Dalam keadaan sangat terjepit, Daud menguatkan kepercayaan kepada Tuhan. Daud memperlakukan Tuhan sebagai Tuannya, maka Allah menolong Daud dengan memberikan kemenangan kepadanya. Demikian juga raja Hizkia adalah orang yang berpegang teguh kepada segala perintah Tuhan. Ketika Hizkia menerima kabar yang mengecilkan hati, ia menyerahkan hal itu kepada Tuhan, maka Tuhan mendengar doanya dan membelanya.
Bila kita mau memperlakukan Tuhan sebagai Tuan dalam hidup kita, maka kita akan melihat pembelaan Tuhan dalam hidup kita.
Fellowship
Ibrani 10:24-25
24. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Setiap kita memiliki kebutuhan untuk bersekutu. Kita tak diciptakan untuk menyendiri melainkan untuk saling bergantung. Apa arti persekutuan? Gosip? Secangkir teh dan snack? Jalan-jalan? Bukan. Arti persekutuan dalam akar Yunani adalah bersama atau berbagi. Jadi persekutuan adalah partisipasi bersama dengan membagi apa yg anda miliki kepada orang lain atau menerima apa yg orang lain berikan kepada anda. Di dalam persekutuan, kita saling berbagi hal yg telah kita terima dari TUHAN. Memberi dan menerima adalah hakikat persekutuan, dan memberi serta menerima harus menjadi cara bersekutu dalam kehidupan tubuh Kristus.
Dengan merenungkan bagian Alkitab Kisah Rasul 2:42-47 kita dapat melihat bagaimana persekutuan jemaat mula-mula.
Itulah persekutuan menurut perjanjian baru. Persekutuan Kristen mencakup dua dimensi, vertikal baru horizontal. Persekutuan dgn Allah, baru persekutuan dgn manusia (1 Yoh 1:3). Orang yg tak mengenal Allah tidak berada dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak dan Roh Kudus, bukan Kristen dan tidak dapat berbagi realitas persekutuan dgn Kristen lainnya. Setiap orang percaya mendapatkan tempat di dalamnya melalui kelahiran baru yg secara tak terhindarkan menjadikannya anggota keluarga Allah. Sama seperti keluarga layaknya, maka di dalam keluarga Allah kita memberi juga menerima-bersama dgn hak yg kita peroleh datang juga kewajiban, dan yg menarik, Allah memandang persekutuan di antara orang percaya sedemikian istimewa hingga ia berjanji, jika ada dua-tiga orang di antara anak-Nya berkumpul di dalam nama-Nya, maka Ia akan hadir di tengah mereka (Mat.18:20)
24. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Setiap kita memiliki kebutuhan untuk bersekutu. Kita tak diciptakan untuk menyendiri melainkan untuk saling bergantung. Apa arti persekutuan? Gosip? Secangkir teh dan snack? Jalan-jalan? Bukan. Arti persekutuan dalam akar Yunani adalah bersama atau berbagi. Jadi persekutuan adalah partisipasi bersama dengan membagi apa yg anda miliki kepada orang lain atau menerima apa yg orang lain berikan kepada anda. Di dalam persekutuan, kita saling berbagi hal yg telah kita terima dari TUHAN. Memberi dan menerima adalah hakikat persekutuan, dan memberi serta menerima harus menjadi cara bersekutu dalam kehidupan tubuh Kristus.
Dengan merenungkan bagian Alkitab Kisah Rasul 2:42-47 kita dapat melihat bagaimana persekutuan jemaat mula-mula.
Itulah persekutuan menurut perjanjian baru. Persekutuan Kristen mencakup dua dimensi, vertikal baru horizontal. Persekutuan dgn Allah, baru persekutuan dgn manusia (1 Yoh 1:3). Orang yg tak mengenal Allah tidak berada dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak dan Roh Kudus, bukan Kristen dan tidak dapat berbagi realitas persekutuan dgn Kristen lainnya. Setiap orang percaya mendapatkan tempat di dalamnya melalui kelahiran baru yg secara tak terhindarkan menjadikannya anggota keluarga Allah. Sama seperti keluarga layaknya, maka di dalam keluarga Allah kita memberi juga menerima-bersama dgn hak yg kita peroleh datang juga kewajiban, dan yg menarik, Allah memandang persekutuan di antara orang percaya sedemikian istimewa hingga ia berjanji, jika ada dua-tiga orang di antara anak-Nya berkumpul di dalam nama-Nya, maka Ia akan hadir di tengah mereka (Mat.18:20)
Menjadi Masyarakat Kasih Karunia
Yohanes 8:7 (baca ay.2-11)
7. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Sebuah kisah Jim Baker, dia seorang pendeta selebritis yg memukau dunia dgn kefasihan lidahnya sebagai pembicara tv di Amerika di bawah bendera perisahaan PTL (Praise The LORD). Pada puncak kejayaannya Jim terjerat dosa seksual dan penyimpangan keuangan, yg menyebabkan kariernya berakhir di penjara. Jim menceritakan harinya yang muram di penjara, dan pada suatu hari dia sedang membersihkan toilet penjara dan ia diberitahu ada seorang tamu datang untuk bertemu dengannya. Melihat kondisi dan pakaiannya yang kotor dia ragu untuk menerima seorang tamu, namun ahirnya dgn langkah gontai ia melangkah ke ruang pertemuan tanpa tahu siapa tamunya. Ketika masuk ke ruangan itu betapa terkejutnya dia karena yg berdiri di sana adalah Billy Graham yg tanpa ragu menghampiri, menyentuh dan memeluknya. Betapa luar biasa lukisan kasih karunia ini: seorang pria yg seumur hidupnya dikagumi jutaan orang karena melegenda sebahai sosok yg menang atas godaan uang dan seks memeluk seorang pria yg justru terjegal di dua bidang itu. Tak hanya sampai disana ceritanya: kasih karunia dlm bentuk anugerah pengampunan yg diulurkan Billy Graham adalah anugerah yg mengalir dari anugerah yg dia dan setiap kita nikmati saat kita datang kepada Kristus. Anugerah yg sama ini yang ditawarkan pada Jim Baker, lalu ia menuliskan buku: I was wrong and forgiven (aku bersalah dan diampuni).
Dosa terasa paling berat setelah kita menerima anugerah pengampunan, bukan sebelumnya. Pengampunan membuat seseorang sadar akan banyaknya dosanya ketika ia bertobat dan diampuni. Ketika Yesus memberikan kasih karunia pada wanita pezinah, apakah anda mendengar satu per satu yang digenggam orang banyak jatuh dan mereka beranjak pergi. Yoh 8:7-8?
7. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Sebuah kisah Jim Baker, dia seorang pendeta selebritis yg memukau dunia dgn kefasihan lidahnya sebagai pembicara tv di Amerika di bawah bendera perisahaan PTL (Praise The LORD). Pada puncak kejayaannya Jim terjerat dosa seksual dan penyimpangan keuangan, yg menyebabkan kariernya berakhir di penjara. Jim menceritakan harinya yang muram di penjara, dan pada suatu hari dia sedang membersihkan toilet penjara dan ia diberitahu ada seorang tamu datang untuk bertemu dengannya. Melihat kondisi dan pakaiannya yang kotor dia ragu untuk menerima seorang tamu, namun ahirnya dgn langkah gontai ia melangkah ke ruang pertemuan tanpa tahu siapa tamunya. Ketika masuk ke ruangan itu betapa terkejutnya dia karena yg berdiri di sana adalah Billy Graham yg tanpa ragu menghampiri, menyentuh dan memeluknya. Betapa luar biasa lukisan kasih karunia ini: seorang pria yg seumur hidupnya dikagumi jutaan orang karena melegenda sebahai sosok yg menang atas godaan uang dan seks memeluk seorang pria yg justru terjegal di dua bidang itu. Tak hanya sampai disana ceritanya: kasih karunia dlm bentuk anugerah pengampunan yg diulurkan Billy Graham adalah anugerah yg mengalir dari anugerah yg dia dan setiap kita nikmati saat kita datang kepada Kristus. Anugerah yg sama ini yang ditawarkan pada Jim Baker, lalu ia menuliskan buku: I was wrong and forgiven (aku bersalah dan diampuni).
Dosa terasa paling berat setelah kita menerima anugerah pengampunan, bukan sebelumnya. Pengampunan membuat seseorang sadar akan banyaknya dosanya ketika ia bertobat dan diampuni. Ketika Yesus memberikan kasih karunia pada wanita pezinah, apakah anda mendengar satu per satu yang digenggam orang banyak jatuh dan mereka beranjak pergi. Yoh 8:7-8?
Tuhan yang menuntun Umatnya
Keluaran 3:17
“Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.”
Allah berjanji akan menuntun bangsa Israel keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri yang berkelimpahan susu dan madu (Keluaran 3:17). Ini adalah gambaran dari keselamatan kita. Tuhan melepaskan kita dari belenggu dosa menuju pada kehidupan yang berkelimpahan. Gagasan mengenai keselamatan manusia datang dari Tuhan, bukan dari hati dan pikiran manusia.
Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladan-Nya, tetapi manusia disesatkan dan diperdaya oleh iblis, sehingga manusia melanggar perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa. Orang berdosa harus dihukum, sebab upah dosa ialah maut atau kematian. Dia adalah Allah yang penuh kasih, tetapi Dia juga adalah Allah yang adil dalam menjatuhkan penghukuman. Ia menghendaki semua manusia selamat dan mereka yang menolak pasti dihukum. Jika kita mengaku dosa kita, maka Tuhan akan mengampuni (I Yohanes 1:9). Tanpa pengakuan dosa, tidak ada pengampunan dan untuk mengaku dosa, kita harus terlebih dulu sadar bahwa kita adalah orang berdosa, semua itu adalah pekerjaan Roh Tuhan.
Setelah menebus manusia dari cengkeraman setan, Tuhan menghendaki kita menjadi milik-Nya untuk selamanya. Dia menuntun dan memimpin kita dalam perjalanan panjang menuju Tanah Perjanjian. Banyak cobaan, rintangan dan godaan harus kita hadapi. Tetapi percayalah, salib yang kita pikul, bukan salib yang terlalu berat. Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita (I Korintus 10:13).
Dengan salib kita masing-masing, kita akan berjalan terus bersama Yesus sampai tiba di negeri Perjanjian yaitu Surga yang mulia.
“Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.”
Allah berjanji akan menuntun bangsa Israel keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri yang berkelimpahan susu dan madu (Keluaran 3:17). Ini adalah gambaran dari keselamatan kita. Tuhan melepaskan kita dari belenggu dosa menuju pada kehidupan yang berkelimpahan. Gagasan mengenai keselamatan manusia datang dari Tuhan, bukan dari hati dan pikiran manusia.
Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladan-Nya, tetapi manusia disesatkan dan diperdaya oleh iblis, sehingga manusia melanggar perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa. Orang berdosa harus dihukum, sebab upah dosa ialah maut atau kematian. Dia adalah Allah yang penuh kasih, tetapi Dia juga adalah Allah yang adil dalam menjatuhkan penghukuman. Ia menghendaki semua manusia selamat dan mereka yang menolak pasti dihukum. Jika kita mengaku dosa kita, maka Tuhan akan mengampuni (I Yohanes 1:9). Tanpa pengakuan dosa, tidak ada pengampunan dan untuk mengaku dosa, kita harus terlebih dulu sadar bahwa kita adalah orang berdosa, semua itu adalah pekerjaan Roh Tuhan.
Setelah menebus manusia dari cengkeraman setan, Tuhan menghendaki kita menjadi milik-Nya untuk selamanya. Dia menuntun dan memimpin kita dalam perjalanan panjang menuju Tanah Perjanjian. Banyak cobaan, rintangan dan godaan harus kita hadapi. Tetapi percayalah, salib yang kita pikul, bukan salib yang terlalu berat. Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita (I Korintus 10:13).
Dengan salib kita masing-masing, kita akan berjalan terus bersama Yesus sampai tiba di negeri Perjanjian yaitu Surga yang mulia.
Kristus Sebagai Kepala Gereja
Kolose 1:15(renungkan ay.15-23)
15. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
Kolose adalah kitab yg sarat dgn pengajaran Kristologi (dokrin tentang Kristus). Ditulis oleh Paulus dgn tujuan melengkapi gereja dan menentang ajaran sesat/ bidat pada masa itu. Melalui tulisannya Paulus mengangkat satu tema utama yg menjelaskan keunikan Kristus. Dalam ayat di atas, Paulus memfokuskan pembahasan mengenai "supremasi Kristus" setelah mendoakan kemajuan kekristenan jemaat (ay.9-14), dan menjelaskan tentang Kristus adalah TUHAN atas segala ciptaan (ay.15-17), ia menandaskan pula bahwa Kristus adalah kepala gereja (ay.18).
Sebuah pemosisian yg menggambarkan dengan lugas hubungan yang unik antara Kristus dengan kita jemaat-Nya, yakni entitas/kesatuan yang hidup. Kristus adalah Kepala, yg menguasai dan memberikan arah; sementara jemaat adalah tubuh, organ pribadi-Nya yg berada di bawah kendali-Nya dan mentaati arahan/pimpinan-Nya, mengerjakan pekerjaan-Nya. Dan hidupnya secara keseluruhan merefleksikan kehidupan kebangkitan Kristus. Melalui penggambaran ini Paulus memberi penegasan bahwa sama sepeti kebergantungan tubuh pada kepala, maka demikian pula kehidupan gereja bergantung secara vital pada Kristus, sang Kepala. Kepala menghidupkan tubuh. Kehidupan kepala meir dalam tubuh dan memenuhi tubuh dengan dinamika kehidupannya. Tubuh meninggikan Juruselamat dan dgn patuh melaksanakan kehendak-Nya, Pulus menegaskan hanya ada satu kepala mengalir dalam tubuh dan memenuhi tubuh dgn dinamika kehidupannya. Tubuh meninggikan Juruselamat dan dgn patut melaksanakan kehendak-Nya, Paulus menegaskan hanya ada satu kepala bagi Gereja: yaitu Kristus, implikasinya secara tak terhindarkan menjadikan gereja harus berfokus pada Kristus dan kehendak-Nya. Dgn kata lain gereja yg benar adalah gereja "Christo cenntris", gereja yg membangun segala aspek kehidupannya di seputar Kristus.(Christ Oriented)
15. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
Kolose adalah kitab yg sarat dgn pengajaran Kristologi (dokrin tentang Kristus). Ditulis oleh Paulus dgn tujuan melengkapi gereja dan menentang ajaran sesat/ bidat pada masa itu. Melalui tulisannya Paulus mengangkat satu tema utama yg menjelaskan keunikan Kristus. Dalam ayat di atas, Paulus memfokuskan pembahasan mengenai "supremasi Kristus" setelah mendoakan kemajuan kekristenan jemaat (ay.9-14), dan menjelaskan tentang Kristus adalah TUHAN atas segala ciptaan (ay.15-17), ia menandaskan pula bahwa Kristus adalah kepala gereja (ay.18).
Sebuah pemosisian yg menggambarkan dengan lugas hubungan yang unik antara Kristus dengan kita jemaat-Nya, yakni entitas/kesatuan yang hidup. Kristus adalah Kepala, yg menguasai dan memberikan arah; sementara jemaat adalah tubuh, organ pribadi-Nya yg berada di bawah kendali-Nya dan mentaati arahan/pimpinan-Nya, mengerjakan pekerjaan-Nya. Dan hidupnya secara keseluruhan merefleksikan kehidupan kebangkitan Kristus. Melalui penggambaran ini Paulus memberi penegasan bahwa sama sepeti kebergantungan tubuh pada kepala, maka demikian pula kehidupan gereja bergantung secara vital pada Kristus, sang Kepala. Kepala menghidupkan tubuh. Kehidupan kepala meir dalam tubuh dan memenuhi tubuh dengan dinamika kehidupannya. Tubuh meninggikan Juruselamat dan dgn patuh melaksanakan kehendak-Nya, Pulus menegaskan hanya ada satu kepala mengalir dalam tubuh dan memenuhi tubuh dgn dinamika kehidupannya. Tubuh meninggikan Juruselamat dan dgn patut melaksanakan kehendak-Nya, Paulus menegaskan hanya ada satu kepala bagi Gereja: yaitu Kristus, implikasinya secara tak terhindarkan menjadikan gereja harus berfokus pada Kristus dan kehendak-Nya. Dgn kata lain gereja yg benar adalah gereja "Christo cenntris", gereja yg membangun segala aspek kehidupannya di seputar Kristus.(Christ Oriented)
Memperbaiki langkah kita
Yeremia 7:3
“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.”
Orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem merasa bahwa cukup mereka mempersembahkan korban bakaran saja maka semua dosa mereka diampuni. Tetapi dengan tegas Firman Tuhan berkata: “Perbaikilah langkahmu dan perbuatanmu.” Tidak cukup hanya beribadah, tidak cukup hanya berjemaat dan lain sebagainya, tetapi sangat perlu sekali untuk memperbaiki perbuatan kita, setelah itu Tuhan mau diam di tengah-tengah kita. Beribadah itu baik, berkorban baik, tetapi akan menjadi tidak berguna kalau kita tidak memperbaiki langkah kita. Masa lalu kita yang salah perlu kita perbaiki agar Tuhan diam di tengah kita. Orang yang percaya harus selalu tahu tujuannya.
Mengapa kita masuk gereja? mengapa harus dengar dan lakukan Firman Tuhan? mengapa harus banyak berdoa dan sebagainya? Tahukah Anda ke mana Anda pergi?
Rasul Paulus berkata dalam I Korintus 9:26 “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” Berlari artinya mengerahkan segenap kekuatan. Bukan petinju yang sembarangan saja memukul (bukan meninju angin: terjemahan lama). Dalam hidup kita harus ada goal-goal yang hendak kita capai. Tetapi goal yang bagaimana yang harus kita capai?
Filipi 3:13-14 “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Kita mau mencapai yang ada di depan. Jangan tangisi atau sesali kegagalan di tahun lalu. Bagi yang sudah berhasil capailah yang lebih tinggi lagi. Bagi yang belum berhasil tahun lalu waktunya bagi kita untuk menerima keberhasilan.
Tujuan utama kita adalah panggilan Allah dalam Kristus.
“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.”
Orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem merasa bahwa cukup mereka mempersembahkan korban bakaran saja maka semua dosa mereka diampuni. Tetapi dengan tegas Firman Tuhan berkata: “Perbaikilah langkahmu dan perbuatanmu.” Tidak cukup hanya beribadah, tidak cukup hanya berjemaat dan lain sebagainya, tetapi sangat perlu sekali untuk memperbaiki perbuatan kita, setelah itu Tuhan mau diam di tengah-tengah kita. Beribadah itu baik, berkorban baik, tetapi akan menjadi tidak berguna kalau kita tidak memperbaiki langkah kita. Masa lalu kita yang salah perlu kita perbaiki agar Tuhan diam di tengah kita. Orang yang percaya harus selalu tahu tujuannya.
Mengapa kita masuk gereja? mengapa harus dengar dan lakukan Firman Tuhan? mengapa harus banyak berdoa dan sebagainya? Tahukah Anda ke mana Anda pergi?
Rasul Paulus berkata dalam I Korintus 9:26 “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” Berlari artinya mengerahkan segenap kekuatan. Bukan petinju yang sembarangan saja memukul (bukan meninju angin: terjemahan lama). Dalam hidup kita harus ada goal-goal yang hendak kita capai. Tetapi goal yang bagaimana yang harus kita capai?
Filipi 3:13-14 “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Kita mau mencapai yang ada di depan. Jangan tangisi atau sesali kegagalan di tahun lalu. Bagi yang sudah berhasil capailah yang lebih tinggi lagi. Bagi yang belum berhasil tahun lalu waktunya bagi kita untuk menerima keberhasilan.
Tujuan utama kita adalah panggilan Allah dalam Kristus.
Communio Sanctorum
1 Petrus 2:9 (baca ay.8-10)
9. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
Charles Colsin dan Harold Ficket dalam bukunya The Faith mengatakan: Di kayu salib, Kristus bukan saja mendamaikan kita dengan diri-Nya tetapi juga menggabungkan kita ke dalam tubuh-Nya yakni gereja. Sebagai pribadi Kristen, kita juga dipanggil menjadi bagian badan khusus yakni gereja lokal. Di situlah kewajiban dan disiplin rohani kita dapat dipenuhi. Kita tidak dapat memahami gereja tanpa memandangnya sebagai dari meta-narasi yang disampaikan Alkitab. Gereja adalah komunitas yang dipikirkan Allah bahkan sebelum waktu ada (Rom 8:29) gereja terdiri dari semua orang yang telah menerima tawaran keselamatan Kristus. Kitapun tidak dapat menjadi orang Kristen yang setia tanpa mengaku peran pokok yang diberikan Allah kepada gereja, tubuh Kristus yang hidup.
Gereja adalah proyek perebutan kembali. Ia ada untuk menegakkan kembali kekuasaan Allah di dunia, yang hampir merata menolak pemerintahan-Nya. Sebagai tubuh kristus tugasnya yang paling mendasar adalah membangun komunitas yang memiliki karakter kudus, meminjam istilah gereja mula-mula: komunitas orang kudus, 'communio sanctorum". Sebagai komunitas, gereja adalah masyarakat batu dengan nilai-nilai baru, yang seringkali berseberangan dengan nilai-nilai masyarakat sekitarnya. Dan prioritas pertama bagi komunitas ini adalah membuat orang-orangnya bertumbuh dalam Kristus dan kemudian memperlengkapi mereka untuk menghidupi imannya dalam setiap aspek kehidupan dan di setiap bagian dunia. Gereja tidak menarik orang masuk, tetapi mengirim orang keluar. Tidak ada dalam Alkitab! Dunia dinasihati untuk datang ke gereja, mandat gereja jelas: ia harus pergi ke luar.
9. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
Charles Colsin dan Harold Ficket dalam bukunya The Faith mengatakan: Di kayu salib, Kristus bukan saja mendamaikan kita dengan diri-Nya tetapi juga menggabungkan kita ke dalam tubuh-Nya yakni gereja. Sebagai pribadi Kristen, kita juga dipanggil menjadi bagian badan khusus yakni gereja lokal. Di situlah kewajiban dan disiplin rohani kita dapat dipenuhi. Kita tidak dapat memahami gereja tanpa memandangnya sebagai dari meta-narasi yang disampaikan Alkitab. Gereja adalah komunitas yang dipikirkan Allah bahkan sebelum waktu ada (Rom 8:29) gereja terdiri dari semua orang yang telah menerima tawaran keselamatan Kristus. Kitapun tidak dapat menjadi orang Kristen yang setia tanpa mengaku peran pokok yang diberikan Allah kepada gereja, tubuh Kristus yang hidup.
Gereja adalah proyek perebutan kembali. Ia ada untuk menegakkan kembali kekuasaan Allah di dunia, yang hampir merata menolak pemerintahan-Nya. Sebagai tubuh kristus tugasnya yang paling mendasar adalah membangun komunitas yang memiliki karakter kudus, meminjam istilah gereja mula-mula: komunitas orang kudus, 'communio sanctorum". Sebagai komunitas, gereja adalah masyarakat batu dengan nilai-nilai baru, yang seringkali berseberangan dengan nilai-nilai masyarakat sekitarnya. Dan prioritas pertama bagi komunitas ini adalah membuat orang-orangnya bertumbuh dalam Kristus dan kemudian memperlengkapi mereka untuk menghidupi imannya dalam setiap aspek kehidupan dan di setiap bagian dunia. Gereja tidak menarik orang masuk, tetapi mengirim orang keluar. Tidak ada dalam Alkitab! Dunia dinasihati untuk datang ke gereja, mandat gereja jelas: ia harus pergi ke luar.
Bangkit dari kegagalan
Lukas 22:60
Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
Tiga kali Petrus dicobai dan ia terjungkal. Ia menyangkali Yesus, bahkan pada ketiga kalinya Petrus bersumpah bahwa ia tidak mengenal Yesus. Tapi saat itu Yesus menyadarkan Petrus melalui kokok ayam. Kalau manusia sudah lupa Tuhan, binatang masih lebih dengar-dengaran kepada Tuhan. Tuhan bisa pakai apa saja, siapa saja untuk menyadarkan kita. Tuhan pun bisa bicara lewat bencana dan musibah. Tuhan memakai kejadian-kejadian alam untuk menandai kedatanganNya. Namun dengan penuh kasih, Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku” (Lukas 22:61). Tentu perbuatan Petrus sangat menyakitkan hati Yesus. Tapi ia masih memberi kesempatan kepada Petrus, ia memandang Petrus dengan mata yang mengasihi.
Berjalanlah dalam perjalanan iman, jangan berjalan pada jalan yang bertentangan dengan jalan Allah. Kita perlu menangisi kesalahan kita, menyesali dosa dan kesalahan dan berbalik dari dosa-dosa kita. Ada banyak anak Tuhan, menangisi dosanya tapi tidak beranjak dari kesalahan itu! Petrus tinggalkan tempat itu dan kembali kepada pengiringannya kepada Yesus sampai akhir hidupnya. Tidak ada orang yang ingin jatuh, tapi kejatuhan dapat saja terjadi tanpa kita duga. Itu sebabnya kita harus memeriksai diri kita, apakah kita sudah mulai menjauh dari Tuhan, berjalan sendiri dan telah kehilangan kasih yang semula. Mintalah agar Tuhan menghangatkan kasih kita sehingga kita tidak kehilangan kasih yang mula-mula.
Jagalah api Roh Kudus agar selalu menyala. Jika Saudara dalam keadaan terpuruk, Yesus mau memulihkan keadaan Saudara.
Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
Tiga kali Petrus dicobai dan ia terjungkal. Ia menyangkali Yesus, bahkan pada ketiga kalinya Petrus bersumpah bahwa ia tidak mengenal Yesus. Tapi saat itu Yesus menyadarkan Petrus melalui kokok ayam. Kalau manusia sudah lupa Tuhan, binatang masih lebih dengar-dengaran kepada Tuhan. Tuhan bisa pakai apa saja, siapa saja untuk menyadarkan kita. Tuhan pun bisa bicara lewat bencana dan musibah. Tuhan memakai kejadian-kejadian alam untuk menandai kedatanganNya. Namun dengan penuh kasih, Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku” (Lukas 22:61). Tentu perbuatan Petrus sangat menyakitkan hati Yesus. Tapi ia masih memberi kesempatan kepada Petrus, ia memandang Petrus dengan mata yang mengasihi.
Berjalanlah dalam perjalanan iman, jangan berjalan pada jalan yang bertentangan dengan jalan Allah. Kita perlu menangisi kesalahan kita, menyesali dosa dan kesalahan dan berbalik dari dosa-dosa kita. Ada banyak anak Tuhan, menangisi dosanya tapi tidak beranjak dari kesalahan itu! Petrus tinggalkan tempat itu dan kembali kepada pengiringannya kepada Yesus sampai akhir hidupnya. Tidak ada orang yang ingin jatuh, tapi kejatuhan dapat saja terjadi tanpa kita duga. Itu sebabnya kita harus memeriksai diri kita, apakah kita sudah mulai menjauh dari Tuhan, berjalan sendiri dan telah kehilangan kasih yang semula. Mintalah agar Tuhan menghangatkan kasih kita sehingga kita tidak kehilangan kasih yang mula-mula.
Jagalah api Roh Kudus agar selalu menyala. Jika Saudara dalam keadaan terpuruk, Yesus mau memulihkan keadaan Saudara.

